Senin, 30 Maret 2009

Hubungan antara Toean Mahasar dengan Kerajaan Tanah Djawa

Raja ke-5 dari Kerajaan Tanah Jawa yang bernama Djintanari mempunyai istri "Poeang Namartoeah" dari Bandar dan dari perkawinan tersebut mempunyai putra bernama Timboel Madjadi (raja ke-6) selain putranya tersebut beliau juga mempunyai putri "Silandit Bou". Botou ni Toean Timboel Madjadi inilah yang dipersunting Toean Mahasar Damanik dari Sipolha menjadi istrinya.

Dari Perkawinan Toean Mahasar dengan Silandit Bou (Boruni Toean Djintanari) memperoleh keturunan seorang putra yang bernama Toean Djadi Damanik.

Setelah dewasa Toean Djadi mempersunting pula parebannya boruni Toean Timboel Madjadi.

Toean Timboel Madjadi selain mempunyai lima orang putra yang masing-masing bernama Horpanaloean,Podang Rani, Sirhata, Batoerat danAnggaralawan juga mempunyai putri "Silandit Bou".

Dari perkawinan Toean Djadi dengan Silandit Bou (boruni Toean Timboel Madjadi) lahirlah keturunan mereka yaitu dua orang putra masing masing bernama Toean Mariah Moeda Damanik dan Toean Boras Damanik.

Toean Boras Damanik mempunyai seorang putra bernama Toean Akim Damanik.

Setelah dewasa Toean Akim Damanik juga mempersunting keturunan dari Kerajaan Tanah Djawa yaitu boru dari Toean Horpanaloean raja ke8 dari Kerajaan Tanah Jawa.

Toean Horpanaloean selain mempunyai tiga orang putra yang masing masing bernama Toean Djintar, Toean Sang Madjadi dan Toean Djara juga mempunyai seorang putri "Silandit Bou".

Dari Perkawinan Toean Akim Damanik dengan Silandit Bou (putri Toean Horpanaloean) lahir keturunannya yang bernama Toean Kaden Damanik.



Mengingat sejarah tersebut dan skema silsilah yang ada ini, begitu dekatnya hubungan Kerajaan Tanah Jawa dengan Toean Mahasar Damanik dari Sipolha dari generasi ke generasi.

Bagi kita keluarga besar Sinaga dari Kerjaan Tanah Jawa dan juga dari keturunan Toean Mahasar dari Sipolha hendaknya merasa bersyukur karena tutur kekerabatan dari sejak jaman dahulu riwayatnya masih dapat terpelihara dengan baik, hendaknya generasi sekarang yang ada ini dapat meneruskannya.
Sekali lagi dari generasi muda Kerajaan Tanah Jawa dan generasi Toean Mahasar dari Sipolha yang ada sekarang ini saya menghimbau untuk secara bersama sama bertanggung jawab memelihara dan melanjutkan serta mendokumentasikan kekerabatan kita dengan terorganisir.

eone sinaga

Stambom Keradjaan Tanah Djawa

Saya bukanlah seorang penulis ataupun sejarahwan, saya hanyalah manusia biasa. Telah banyak saya baca posting mengenai sejarah kerajaan disimalungun terutama mengenai kerajaan Tanah Jawa. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang begitu perhatiannya terhadap sejarah Kerajaan di Simalungun. Akan tetapi sebegitu banyaknya tulisan tersebut kembali ke itu itu juga karena pada umumnya hanyalah copy paste saja dari tulisan sebelumnya, sementara para pembaca berharap agar tulisan tulisan tersebut lebih berkembang dan lebih spesipik lagi.

Untuk itu saya mencoba menulis riwayat Kerajaan Negeri Tanah Jawa dengan lebih spesipik menurut versi keluarga saya (Keturunan Harajaon Tanah Jawa).

Saya seorang yang berasal dari keturunan Simalungun bermarga Sinaga Dadihoyong menurut cerita orang tua saya, keluarga kami berasal dari Desa Huta bayu marubun, dulunya merupakan bagian wilayah dari Kerajaan Tanah Jawa yang disebut partuanon dan leluhur saya sebagai tuan Marubun.

Menurut cerita orang tua saya Kerajaan Tanah Jawa dahulu terletak di Pematang Tanah Jawa, saat ini adalah Desa Pekan Tanah Jawa, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.
Peninggalan Kerajaan seperti istana (rumah bolon) sudah tidak ada lagi karena telah lama hancur tetapi di bekas tapak istana (rumah bolon tersebut) atas kesepakatan keluarga telah di infaqkan untuk dibangun mesjid.
Yang masih tertnggal saat ini adalah kuburan raja-raja yang dinamakan Parsimagotan. Disana bersemayang 12 kuburan raja, akan tetapi tanda-tanda seperti nama-nama dan kapan meninggalnya tidak ada tertulis, sedangkan pekuburan tersebut terletak diantara dua buah Sungai (Bah) yaitu Bah Manigom dan Bah Kisat.

Orang tua saya ada memberikan sebuah naskah silsilah yang dibuat oleh leluhur saya yaitu Toean Maroeboen bertanggal 19-01-1937 atas perintah Raja Tanoh Djawa dengan judul Stambom Keradjaan Tanah Djawa dari generasi 1(Pertama) dalam arti Raja yang pertama kali dapat diketahui namanya sampai generasi ke-7 (naskah aslinya ada pada saya) kemudian saya membuatnya kembali dan mencoba untuk mengembangkan garis keturunan sampai dengan sekarang ini namun belum dapat diselesaikan mengingat keberadaan saudara saudara kami yang berada diberbagai pelosok Nusantara dan di luar Negeri tercinta ini.


Dari Silsilah ini diterangkan raja ke-1 adalah Sorgalawan, kemudian raja ke-2 Djontaboelan dilanjutkan oleh raja ke-3 Sorgahari. Sorgahari mempunyai anak laki-laki 2(dua) orang, yang pertama bernama Oesoel dan yang kedua bernama Djintanari.
Setelah Sorgahari wafat, anak pertama Sorgahari bernama Oesoel menjadi raja ke-4 dan setelah Oesoel wafat tahta kerajaan dilanjutkan oleh adiknya bernama Djintanari menjadi raja ke-5.

Raja ke-6 bernama Timboel beliau adalah putra dari Djintanari. Raja ke-6 ini mempunyai putra sebanyak 5(lima) orang. Setelah raja ke-6 wafat tahta kerajaan jatuh kepada anak keduanya yang bernama Podang rani menjadi raja ke-7, setelah Podang rani wafat maka beliau digantikan oleh abang tertuanya bernama Horpanaloean menjadi raja ke-8.

Pada masa kekuasaannya Horpanaloean mempunyai 3 (tiga) buah Parhutaan (kampung) yaitu :

1. Huta Pematang Tanah Jawa.
2. Huta Bayu raja.
3. Huta raja Maligas

Beliau bergelar Tuan Raja Maligas, beliau bermukim di Huta Pematang Tanah jawa karena roda pemerintahan ada di Huta Pematang Tanah Jawa, karena beliau memegang tampuk Kerajaan Tanah Jawa maka kekuasaannya adalah meliputi seluruh wilayah Kerajaan Tanah Jawa.

Pada waktu-waktu tertentu ketiga huta ini selalu beliau kunjungi bahkan menginap disalah satu huta yang dikehendakinya.

Pada suatu waktu beliau jatuh sakit di Huta Pematang Tanah Jawa, beliau minta diantar berobat ke Kramat Parsiroan di Huta Raja Maligas, akan tetapi beliau tidak kunjung sembuh bahkan akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Huta Raja Maligas pada tahun 1905. Bangunan makam beliau terbuat dari kayu teras yang memakai pasak dan tiang maka beliau diberi gelar Raja Nairassang. Beliau meninggalkan dua orang putra yang bernama Djintar dan Sangmajadi.

Karena kedua putra beliau belum cukup dewasa maka Kerajaan Tanah Jawa dipangku oleh Tuan Sanggah Goraha dari tahun 1907 sampai dengan 1912. (raja ke 9)
Ditahun 1905 sampai dengan masa kepemimpinan Sanggah Goraha sebagai pemangku Kerajaan Tanah Jawa perlawanan terhadap Belanda terus terjadi, di Tanah Djawa beliau sebagai salah seorang pemimpin perlawanan rakyat yang akhirnya dapat ditundukkan oleh Belanda dan beliau dibuang ke Batubara dan tidak pernah diakui sebagai Raja oleh Pemerintah Belanda dan sampai akhirnya beliau kembali lagi ke Tanah Jawa.
Sanggah Goraha meninggal duniapada tahun 1930.

Setelah Tuan Djintar cukup dewasa maka beliau diangkat menjadi raja Tanah Jawa yang ke-10 dan berkuasa dari tahun 1912 sampai degan tahun 1917.

Pada masa Tuan Djintar diangkat menjadi raja Tanah Jawa, kondisi rumah bolon Huta Pematang Tanah Jawa sudah tidak memenuhi syarat untuk ditempati karena sudah tua, hal ini dapat dimaklumi karena telah dihuni oleh tiga generasi yaitu dari Tuan Djintanari, Tuan Timboel Madjadi dan Tuan Horpanaloean. Pembangunan rumah bolon yang baru tersebut dikepalai oleh Tuan Mahasar Damanik dari Sipolha.

Atas perintah raja Tanah Jawa yang baru yaitu Tuan Djintar maka dibangunlah sebuah rumah bolon yang baru diseberang sungai Bahkisat berikut dibuat parhutaan yang baru dinamakan Huta Dipar (artinya Huta diseberang). Letak Huta tersebut adalah disebelah Kantor Camat Tanah Jawa yang ada sekarang ini.
Diparhutaan yang baru ini diangkat seorang penghulu yang bernama Hoela Sinaga (orang tua dari Toulong Sinaga mertua Marsekal Pertama Syahalam Damanik).


Karena adanya konflik dengan Pemerintah Belanda Tuan Djintar diasingkan oleh Pemerintah Belanda ke kota Medan, beliau wafat di Medan pada tahun 1918 dan jenazahnya dibawa pulang ke Tanah Jawa oleh yang salah seorangnya bernama Tuan Raja Ihoet Sinaga (lahir 1879 meninggal dunia tahun 1997 adalah kakek penulis) anak dari Tuan Sanggah goraha Sinaga (pemangku kerajaan Tanah Jawa dari 1907-1912)

Karena kuburan raja-raja belum ada di Huta Dipar maka jenazah Tuan Djintar dimakamkan di kuburan keluarga di Huta Pematang Tanah Jawa didekat makam opung nininya yaitu Puang Namartuah dan opung dolinya Tuan Timboel Madjadi, karaena kuburan Tuan Djintar terbuat dari batu dan semen maka diberi gelar Raja Naisimin.

Setelah Tuan Djintar wafat, Kerajaan Tanah Jawa untuk sementara dipangku langsung oleh permaisurinya yaitu Puang Bolon boru Damanik dari Bandar dari tahun 1918 sampai dengan tahun 1919.

Beberapa waktu kemudian datanglah Pemerintah Belanda dan bertanya kepada permaisuri "Siapakah diantara putra raja Nairassang (alm Tuan Djintar) yang akan diangkat menjadi raja?".Puang Bolon tidak segera menjawab dan minta waktu untuk mempertimbangkannya. Sebagaimana diketahui yang berhak menjadi raja adalah anak Puang Bolon, akan tetapi anak beliau hanya satu-satunya yaitu seorang putri Silandit Bou istri dari Tuan Mahasar Ke-IV (Toean Akim Damanik dari Sipolha) .

Karena Pemerintah Belanda terus mendesak agar segera diangkat seorang Raja baru, maka Puang Bolon boru Damanik dari Bandar menunjuk Tuan Sangmadjadi adik dari Tuan Djintar untuk diangkat menjadi Raja Tanah jawa yang baru.


Pada Tahun 1919/1920 Tuan Sangmadjadi diangkat menjadi Pemangku Kerajaan Tanah Jaawa.
Pada tanggal 27 Juli 1921 Tuan Sangmajadi menandatangani Korte Verklaring yang kemudian disyahkan oleh Pemerintah tertinggi Belanda dengan Gouverments Besluit No.23 buln Januari 1922 ,sejak penanda tanganan Korte Verklaring tersebut maka telah syahlah Tuan Sangmadjadi menjadi Raja ke-11 Kerajaan Tanah Jawa.


Pada tahun 1940 sebelum beliau wafat, beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Belanda berupa sebuah Tongkat Kerajaan berbalut emas dan Payung Kerajaan yang berwarna keemasan. Tuan Sangmajadi wafat tahun 1940 meninggalkan tiga orang putra.
Setelah Tuan Sangmadjadi wafat Kerajaan Tanah Jawa dipangku oleh putra tertua beliau yang bernama Tuan Kaliamsjah sampai terjadinya revolusi.


Dengan terjadinya revolusi tersebut maka berakhirlah Kerajaan-kerajaan yang ada di Simalungun.

Fhoto ini adalah majalah Pewarta Kerajaan yang terbit sebulan sekali di Medan bertanggalkan 15 Agustus tahun 1940an yang memberitakan tentang wafatnya Tuan Sangmadjadi.

Demikianlah yang dapat saya ceritakan dari silsilah atau Stambom Kerajaan Tanah Jawa yang di sampaikan oleh orang tua dan opung kepada saya beberapa tahun yang lalu. Tentunya ini tidak lepas dari pada kekurangan kekurangan karena keterbatasan pegetahuan penulis tentang riwayat Kerajaan Tanah Jawa. Penulis berharap kepada semua keturunan Kerajaan Tanah jawa dan semua pihak yang mengetahui sejarah Kerajaan Tanah Jawa dan garis keturunanya yang membaca tulisan ini saya berharap masukannya ke blog ini dan apabila ada kesalahan dari tulisan ini mohon koreksi. Kesempurnaan adalah milik Allah dan kekurangan adalah milik saya kepadanya saya mohon ampun kepada semua pihak saya mohon maaf, Wassalam.


eone sinaga