Kamis, 25 November 2010

Toean Hoetabayoe Maroeboen & Generasi dlm Foto

Collectie : KITLV
Bescrijving :Countroleur van Siantar en Toen Maroeboen Tanoh Djawa Radja Ihoet Sinaga (Rechts) bij een auto in de Batak Landen
Bijzonderheden : 23 Datering Opname, 1937-1941
Datum : 1945
Collektiy : Voorhoeve, Dr P / Barchem












Toean Radja Ihoet Sinaga (1879 s/d 1997)
Beliau wafat usia 118 tahun kurang 2 bulan,
foto ini diambil tahun 1988
















Toean Kaliamta Sinaga (1912/berkacamata) dan adiknya Toean Mangipoek Sinaga (5-10-1924) adalah putra dari Toean Radja Ihoet Sinaga, keduanya masih ada sampai saat ini














(Alm) Prof DR dr Usul Sinaga bin Toean Kaliamta Sinaga bin Toean Radja Ihoet Sinaga dan istri (br Sitompul baju biru), sedang mengiring pengantin















Pernikahan eonesinaga (M Nur Irwansyah Sinaga bin Toean Mangipoek Sinaga bin Toean Radja Ihoet Sinaga) dgn pakaian Adat Simalungun di dampingi oleh kedua orang tua.

Senin, 22 November 2010

Partoeanon Nagori Bayoe

Kerajaan Tanoh Djawa merupakan salah satu bagian kerajaan maroppat di kabupaten simalungun, pada awalnya wilayah kerajaan tanoh djawa berbatas dengan bah lombut dengan Andorasih menyusur sampai Parapat.

Toean Sang Barani Sinaga yang merupakan anak pertama dari Toean Joentaboelan Sinaga (Radja ke 2) dari Poeang Bolon br Damanik, memiliki semangat yang besar untuk memperluas wilayah kerajaan Tanoh Djawa hingga tecapailah Bah silotuhah menjadi perbatasan Asahan dengan Tanoh Djawa dan wilayah yang diperluas oleh Toean Sang Barani disebut dengan Nagori Bayu, dan Toean Sang Barani dinobatkan sebagai Partoeanon (partongah) di Nagori Bayu (Wilayah yang Baru),
Toean Sang Barani meperluas Partoeanon-Partoeanon lainnya seiring bertambahnya pendatang dan berkembangnya keturunan-keturunannya.

Sumber lain ada juga yang mengatakan bahwa Toean Sang Barani merupakan Anak pertama dari Toean Ramadjadi, dimana anak Toean Ramadjadi ada tiga yaitu Toean Sang Barani, Toean Sanggaidin dan Toean Sangorgalawan.

Pada awalnya sebagai anak" paitongah", Toean Sanggaidin berkeinginan untuk membuka wilayah kekuasaan yg baru yaitu dengan memperluas wilayah kearah timur, Toean Sanggaidin meninggal saat memanjat pohon untuk melakukan pemantauan dimana ketika toean Sanggaidin diatas pohon ternyata diintai suruhan dari Asahan dan ditombak dari bawah dengan bambu, maka toean Sanggaidin wafat.

Mendengar berita wafatnya Toean Sanggaidin maka abangnya Toean Sang Barani rela meninggalkan Rumah Bolon Tanoh Djawa dan menitipkannya kepada adiknya Toean Sangorgalawan, lalu Toean Sang Barani melanjutkan perjuangan Toean Sanggaidin melawan Sultan Asahan, hingga tercapai sebuah kesepakatan perbatasan wilayah, dimana sungai Bah silotuhah menjadi batas Asahan-Tanohdjawa.
Wilayah yang berhasil direbut Toean Sang Barani disebut dengan Nagori Bayu,dan Toean Sang Barani menetap di wilayah itu dengan tujuan tetap waspada terhadap Asahan.

Hubungan Toean Nagori Bayu dengan yang memangku kerajaan di Rumah Bolon Tanoh Djawa selalu terjalin dengan akrab dan harmonis, antara abang dan adik tanpa ada ahap "marsipaetek-etekan" dari dulunya, hal itu dapat dilihat ketika saat adanya karapatan-karapatan di Rumah Bolon,bila keturunan Toean Sang Barani atau Toean Nagori Bayu (Passur) telah hadir maka Radja Tanoh Djawa akan serta merta turun dari tikkah (tahta) dan menjemput Toean Nagori Bayu untuk duduk berdampingan dengan Radja, hal itu menunjukkan bahwa keturunan keradjaan Tanoh Djawa memiliki sifat berjiwa besar dan saling menghargai serta ingat akan silsilah sejarah.

Sebagaimana diketahui Toean Ramadjadi merupakan cikal bakal keradjaan Tanohdjawa, yang memiliki anak; Toean SangBarani,Toean Sanggaidin,Toean Sangorgalawan. yang kemudian Toean Sangorgalawan menjadi Radja pertama (1) memiliki anak bernama Toean Djontabulan sebagai Radja kedua (2),anak Toean Djontabulan bernama Toean Sorgahari sebagai Radja ke tiga (3) dan kemudian dilanjutkan anaknya Toean Djintanari (Radja ke4), sebelum mangkat Toean Djintanari memiliki anak yaitu Toean Timbulmajadi,sementara Puang bolon (Puang Namartuah) menikah lagi dengan Toean Usulmajadi (Toean Maroeboen)

Nagori Bayu Toean Sang Barani Sinaga yang terlupakan, seiring berubahnya zaman demi zaman yang terlampaui,terkikisnya" ahap" disetiap jati diri generasi yang merupakan tujuan akhir dari kolonial Belanda,sehingga garis keturunan kereajaan Tanoh Djawa telah tercabik-cabik,seakan tidak tau arah sejarahnya lagi. Toean Sang Barani yang terlupakan tidak memiliki ambisi tahta dan kekuasaan,tetapi Toean Sang Barani rela berkorban dan berjuang demi hak dan harga diri, wibawa martabat kerajaan Tanoh Djawa. Ahap" Sapangambei manoktok Hitei ibas Habonaron do Bona" telah sejak dahulu kala menjadi sifat dan jiwa Toean Sang Barani dan berhaluan "ulang marsipatoru-toruan".

(Penulis, MAHDANI SINAGA adalah generasi dari Toean Nagori Bayu)



Senin, 25 Mei 2009

Partoeanon Maroeboen

Adalah Sorgahari raja ke 3 dari Kerajaan Tanah Jawa mempunyai 2 orang putra.
Putra yang pertama bernama Oesoel Madjadi dan yang kedua bernama Djintanari.
Setelah Oesoel Madjadi dewasa maka oleh orangtuanya dikawinkan dengan seorang wanita dari Simarimboen, beliau diberi gelar Toean Maroeboen dan diberi wilayah kekuasaan (Partuanon) dengan nama Maroeboen. Toen Maroeboen memerintah serta mengatur hajat hidup rakyatnya sendiri tetapi tetap tunduk dibawah kekuasaan Kerajaan Tanah Jawa.

Pusat Pemerintahannya terletak di Simpang Tangsi desa Balimbingan ( RS PTPN IV Balimbingan).
Wilayah Maroeboen meliputi:
sebelah utara sampai dengan Tanggabatu,
sebelah selatan sampai dengan Taratak Bosar Maligas (Tinjoan),
sebelah Barat sampai dengan Simpang Hataran Jawa (Sungai Bah Hilang),
sebelah timur sampai dengan Pematang Tanah Jawa (istana Raja Tanah Jawa). Desa yang masuk wilayah Maroeboen meliputi desa, Timbaan, desa Pendawa Lima, desa Tangga Batu, desa Marubun Jaya, desa Nagori Bayu Maroeboen, desa Marimbun, desa Bosar Majawa, desa Taratak Bosar Maligas dan desa Hataran Jawa.
Seperti halnya dengan Oesoel Madjadi begitu juga dengan Djintanari, apabila telah berumah tangga akan diberi gelar dan diberi wilayah Partuanon.
Selain dari pada itu Raja Sorgahari juga membuat keputusan yang antara lain raja berikutnya (pengganti raja) adalah kedua putranya secara bergantian dengan persetujuan dari Toean Maroeboen (karena toean Maroeboen adalah putra tertua dan juga oleh raja diangkat sebagai Pemangku Adat Kerajaan), begitu seterusnya sampai generasi berikutnya dan ini harus dipatuhi semua keturunan dan Pembesar-pembesar serta Pemanggku Adat Kerajaan yang ada di Kerajaan Tanah Jawa.,
Setelah Raja Sorgahari meninggal maka diangkatlah Djintanari sebagai Raja ke 4 atas musyawarah semua Pembesar Kerajaan dan atas restu dari Toean Maroeboen sebagai Pemangku Adat Kerajaan.
Kemudian setelah Djintanari meninggal maka diangkatlah Toen Maroeboen yaitu Oesoel Madjadi sebagai Raja ke 5, selain raja beliau juga Pemangku Adat Kerajaan.
Kemudian Oesoel Madjadi meninggal maka putranya nomor 2 yang bernama Djoengmani diangkat menjadi Toean Maroeboen sekaligus sebagai pemangku Adat Kerajaan Tanah jawa.
Djoengmani tinggal di istana Partoeanon Maroeboen di Simpang Tangsi.
Pada suatu masa Istana Toean Maroeboen dibakar oleh Belanda karena Raja Tanah Jawa telah mengontrakkan (Konsesi) wilayah tersebut kepada Perusahaan Belanda bernama Handel Vreniging Amsterdam (HVA).
Karena wilayah Partuanon Maroeboen telah dikuasai oleh pihak perusahan Belanda dan dijadikan areal perkebunan Toean Maroeboen pindah kerumah putranya Toean Hoeta bayoe Maroeboen yang bernama Sanggah Goraha. Di Hoeta Bayoe Maroeboen inilah beliau meninggal dunia dan dikebumikan disana, pada masa itu beliau masih menganut kepercayaan setempat yaitu Parmalim.
Pada tahun 1905 sampai dengan tahun 1912 Toean Hoeta bayoe Maroeboen (Toean Sanggah Goraha) dianggkat menjadi Pemangku Kerajaan Tanah Jawa.
Sama halnya seperti ayahnya, Sanggah Goraha tidak pernah mau tunduk didalam urusan pemerintahan belanda, karena prinsip Sanggah Goraha, dia dengan raja belanda mempunyai hubungan pertemanan sehingga kedudukan mereka adalah sederajat.
Prisipnya ini yang menjadi pemicu kericuhan dengan pegawai pemerintahan belanda dan Sanggah Goraha tidak pernah takut untuk menghadapinya dan setiap saat melakukan perlawanan.
Sejalan dengan perlawanan Sanggah Goraha dengan pegawai pemerintah belanda bersamaan dengan itu terjadi pemberontakan di Pondok Buluh di Tiga Dolok oleh rakyat dari Kerajaan Tanah Jawa karena kekejaman Marsose belanda.
Oleh Raja Tanah Jawa pada masa itu adalah Toean Djintar melaporkan kepada pemerintah belanda bahwa yang menggerakkan pemberontakan di Pondok Buluh Tiga Dolok adalah Toean Sanggah Goraha dari Hoeta Bayoe Maroeboen.
Dengan perlawanan yang terus menerus tersebut Sanggah Goraha dikejar kejar oleh tentara belanda yang akhirnya Sanggah Goraha tertangkap oleh belanda dan dibuang ke Batubara.
Di Batu Bara beliau ditahan dirumah Datoek Batubara yang pada masa itu telah takluk dengan belanda.
Di Batu Bara inilah Sanggah Goraha memeluk agama Islam dimana penduduk Batu Bara pada saat itu pada umumnya pemeluk agama Isam.
Pada masa Toean Djintar hendak dikukuhkan menjadi Raja oleh belanda seluruh Pembesar-pembesar kerajaan Tanah Jawa tidak menyetujui pengangkatannya karena Toean Sanggah Goraha (Partoeanon Hoeta Bayoe Maroeboen) tidak berada ditempat untuk memberikan persetujuan atau restu sebagai raja, ini merupakan ketentuan yang harus dipatuhi di Kerajaan Tanah Jawa.
Dengan ketentuan yang telah turun temurun ini maka pemerintah belanda membebaskan dan memerintahkan agar Sanggah Goraha segera di jemput dari Batu Bara.
Maka berangkatlah Poeang Bolon Tanah Jawa dari Bandar (Permaisuri raja Horpanaloean) ibu dari Toean Djintar menjemput Sanggah Goraha ke Batu Bara.
Dengan restu Toean Sanggah Goraha maka oleh belanda diangkatlah Toean Djintar menjadi raja.
Toean Sanggah Goraha kembali ke Hoeta Bayoe Maroeboen untuk melaksanakan tugasnya sebagai Pemangku Adat Kerajaan Tanah Jawa.

Pada tahun 1930 Sanggah Goraha meninggal dunia dan Partuanon Hoeta Bayoe Maroeboen di nobatkan kepada putra pertamanya yaitu Toean Radja Ihoet.
Pada masa Toean Radja Ihoet menjadi Partuanon Hoeta Bayoe Maroeboen, oleh Raja Tanah jawa pada saat itu Toean Sangmadjadi memecah mecah kekuasaan Partuanon Hoeta Bayoe Maroeboen menjadi 4 wilayah;
1. Hoeta Bayoe Maroeboen di pimpin oleh Radja Ihoet,
2. Dolok Maroeboen dipimpin adik ke 2 nya Bindoe Radja,
3. Maroeboen dipimpin oleh Djintaradja adik bungsunya dan
4. Tangga Batu menjadi wilayah kepenghuluan yang pimpinannya diangkat dari rakyat biasa atas usul Toean Radja Ihoet.
Hal ini merupakan perintah Raja Tanah Jawa atas desakan pemerintah belanda untuk memperlemah kekuatan Partuanon Hoeta Bayoe Maroeboen yang merupakan generasi dari Partoeanon Maroeboen yang selalu memberontak kepada pihak belanda.

Jumat, 10 April 2009

Raja dan Kerajaan di Simalungun

Raja dan Kerajaan di Simalungun
Dec 23, 2006 at 09:52 PM
Oleh Erond Litno Damanik MSi

Pengantar

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih).

Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga).

Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).

Demikian pula halnya dalam mengurai asal muasal masyarakat Simalungun, yang banyak berpijak dan tergantung pada aspek diaspora masyarakat Batak (Toba) sehingga, raja dan kerajaan di Simalungun itu dinyatakan berasal dari Batak (Toba).
Padahal, secara struktur dan organisasi sosial, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara kedua suku Batak tersebut, sehingga tidak dengan begitu saja menarik kesimpulan bahwa suku Simalungun merupakan diaspora Batak Toba yang sukses di perantauan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penulis seperti JV. Vergouwen, Washinton Hutagalung, JR. Hutauruk, Batara Sangti maupun MO. Parlindungan yang kontroversial itu.

Yang sangat mengesankan, jika bukan ironis adalah bahwa penulis Simalungun banyak pula yang mengutip pendapat tersebut sebagai sebuah fakta kebenaran tanpa melakukan penggalian lebih lanjut seperti yang dilakukan oleh TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah Simalungun maupun oleh MD. Purba dalam berbagai bukunya yang diterbitkan untuk kalangan sendiri.
Akibatnya, sejarah kebudayaan Simalungun menjadi rapuh dan tidak dapat berdiri sendiri.

Simalungun dalam Literatur

Dalam masyarakat Simalungun tidak terdapat begitu banyak literatur (pustaha) yang mengisahkan tentang riwayat kerajaan tersebut sehingga mengalami kesulitan dalam rekonstruksinya kemudian.
Hanya saja, berdasarkan sejarah lisan yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya bahwa setidaknya tiga fase yang disebutkan di atas pernah hidup, berkuasa dan memerintah.

Sejarah lisan tersebut, agaknya menjadi pedoman bagi bangsa Eropa seperti Tideman (1922) untuk mengurai Simalungun dalam laporannya sebagai penguasa pada saat itu dan juga bagi penulis Simalungun berikutnya. Oleh karenanya, masing-masing penulis sejarah di Simalungun membuat rekonstruksi sendiri atas kemauan sendiri dan kepentingan sendiri tanpa terikat waktu, tempat dan ruang.
Akibatnya, sejarah tersebut sulit diterima secara umum dan apalagi dipergunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan demi kepentingan akademik ilmiah berikutnya.

Jika kemudian terdapat literatur yang mengetengahkan tentang kebudayaan Simalungun, yakni sejarah dan perkembangannya, maka hampir dapat dipastikan bahwa tulisan itu banyak mengadopsi pendapat-pendapat yang banyak ditulis oleh non Simalungun, dan tulisan itu pula banyak bersinggungan dengan pengaruh Agama Kristen yang dilakukan oleh rohaniawan Kristen Simalungun.

Literatur dari masa lampau Simalungun yang masih ada hingga saat ini seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (Hikayat Nagur), Partikkian Bandar Hanopan (Hikayat Silau), Partikian Panai Bolah (hikayat Panai) serta beberapa literatur yang disusun kembali serta ditransliterasi latin oleh JE. Saragih dalam pustaha lak-lak.
Menurut Marim Purba, jumlah keseluruhan literatur yang membahas Simalungun, baik dari segi sejarah masa lampau dan masa kini, baik yang ada di luar negeri (Belanda) maupun di Museum Simalungun tak lebih dari 150 judul.

Kesulitan lain dari beberapa pustaha tersebut adalah tidak memiliki angka tarikh (tahun) sehingga mengalami kegagalan dalam rekonstruksi kronologis kesejarahannya.
Kenyataan ini sangat menyulitkan dalam rekonstruksi sejarah kebudayaan Simalungun berikutnya seperti yang banyak diakui oleh para penulis Simalungun masa kini.
Oleh karena itu, diperlukan penggalian mendalam serta penelusuran secara herastik sehingga pelurusan sejarah tersebut dapat dilakukan kembali.

Leluhur Simalungun

Dalam sejarah masyarakat Batak (Toba) seperti yang telah banyak diketahui bahwa masyarakat Batak (Toba) adalah keturunan Siraja Batak yang beranak cucu kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Sumatera Utara seperti Mandailing Angkola, Pak-pak Dairi, Karo, Simalungun dan Toba serta Nias.
Belakangan, Nias menyatakan bahwa mereka bukan keturunan dari Siraja Batak berdasarkan perbedaan fisik dan budaya lainnya. Dengan begitu, ke lima sub etnik itu adalah merupakan diaspora dari Batak (Toba) yang menyebar ke berbagai wilayah di kawasan itu.

Keadaan lain adalah adanya klaim, penarikan garis keturunan (genealogis) berdasarkan marga (clan) yang mengacu pada klan Batak (Toba) dimana semua klan yang ada pada sub etnik Batak tersebut seolah-olah memiliki kemiripan dan kesamaan.
Dalam penguraian sejarah moety masyarakat Batak seperti yang dilakukan oleh BA Simanjuntak dipaparkan bahwa leluhur nusantara (juga Batak) berasal dari dataran tinggi Yunan dekat hulu Sungai Mekong di Cotte dan Napur Hindia Belakang.

Kemudian dengan alasan tertentu melakukan migrasi ke berbagai wilayah dan sebagian di antaranya tiba di wilayah nusantara yang menghuni wilayah pantai. Gelombang yang pertama memasuki wilayah nusantara (sebahagian tiba di Sumatera Utara) ini disebut dengan Protomelayu (Melayu dalam).
Selanjutnya, dalam rentang waktu tertentu, gelombang migrasi serupa juga terjadi yang disebut dengan Deutromelayu (Melayu luar). Gelombang yang kedua serta memiliki peradaban yang lebih tinggi ini, kemudian mendesak protomelayu ke pedalaman.

Secara signifikan, dapat ditarik korelasi dimana gelombang yang pertama masuk itu pastilah berdiam di Selat Malaka, kemudian mereka terdepak ke daerah pedalaman oleh gelombang migrasi berikutnya hingga ke kawasan Simalungun. Dengan begitu, gelombang yang masuk ke Simalungun pun dapat dinyatakan mengalami dua gelombang, yakni gelombang proto Simalungun dan deutro Simalungun sampai pada akhirnya terbentuk neo Simalungun pasca revolusi berdarah 1946.

Dengan begitu, kondisi ini lebih memungkinkan dan hampir mendekati kebenaran sejalan dengan sejarah penyebaran ras-ras umat manusia.
Sejalan dengan itu, sesuai dengan pendapat Uli Kozok (1992) (Profesor Filologi berkebangsaan Belanda) yang mengurangi bahwa di antara bahasa-bahasa Batak, bahasa Simalungun adalah bahasa yang lebih dulu terbentuk, maka asumsi ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk merekonstruksi kembali sejarah Simalungun. Bahasa Simalungun lebih dekat dengan Bahasa Mandailing, dan lebih jauh jika dibanding dengan Bahasa Batak Toba, Karo ataupun Pak-pak.

Itu berarti bahwa, kemungkinan suku bangsa Simalungun adalah suku yang pertama ada dibanding suku Batak lainnya. Kendati demikian, penggalian serta penelusuran yang lebih mendalam tentang hal ini senantiasa dilakukan sebagai upaya pelurusan sejarah, khususnya pada masyarakat kebudayaan Simalungun.

Monarhi Simalungun

Dalam literatur Simalungun (pustaha laklak) seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (pustaka tertua di Simalungun) yang mengisahkan hikayat kerajaan Nagur (kerajaan Tertua di Simalungun dinasti Damanik)
dikisahkan bahwa sewaktu raja Nagur yakni Sormaliat ingin memiliki istri sekaligus sebagai puang bolon (permaisuri) dari putri pamannya (marboru tulang) yang ada di Negeri Padang Rapuhan. Untuk rencana ini, raja memerintahkan utusannya berangkat menuju negeri yang dituju untuk memberitahukan rencana tersebut.
Untuk sampai di negeri tujuan, dibutuhkan perjalanan selama tiga (bulan) dengan berjalan kaki. Berarti, dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk kembali ke tempat semula yakni di negeri Hararasan (Kerasaan sekarang) tempat Kerajaan Nagur berdiri.Dengan estimasi dan kalkulasi tertentu, maka kemungkinan negeri yang dituju adalah Mataram Lama (Medang Faihbhumi).

Kejadian itu diperkirakan berlangsung sekitar tahun 550 M bersamaan dengan kejayaan kerajaan Mataram Lama pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat beralasan dimana terdapat kesamaan struktur kerajaan yang sama seperti di Jawa. Di Sumatera hal sedemikian tidak diketemukan dan apalagi di Sumatera Utara. Jika seandainya Padang Rapuhan yang dimaksud dalam hikayat itu adalah negeri Padang (Tebing Tinggi), maka perjalanan yang dibutuhkan tentulah tidak selama itu. Lagi pula, kota Tebing Tinggi tersebut yang dibuka oleh keturunan klan Saragih berkisar tahun 1200-an.Jadi, berdasarkan penuturan yang terdapat pada hikayat Parpadanan na Bolak tersebut dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun tersebut telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu.

Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun.
Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat.
Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan Catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ternak ayam.

Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern seperti layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja.
Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa).

Kendatipun pada akhirnya, kerajaan itu hancur dan lebur akibat peristiwa berdarah di Sumatera Timur yang lebih dikenal dengan peristiwa revolusi sosial, dimana pada saat itu, golongan bangsawan dikejar dan dibunuh serta pembakaran istana sebagai dampak economic lag yang terjadi antar kelas.

Keadaan seperti ini bukan semata-mata bertujuan untuk memutus mata rantai integritas serta harmoni kesukuan tetapi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana sejarah itu dapat ditegakkan.

Karena dari sanalah kita dapat mencapai fakta dan kebenaran sejarah sehingga tidak terjadi pengebirian sejarah di kemudian hari. (Penulis: Pemerhati Pendidikan dan Pembangunan Sosial Direktur: Center for Cultural Study and Rural Community Development/The Simetri/d)

Senin, 30 Maret 2009

Hubungan antara Toean Mahasar dengan Kerajaan Tanah Djawa

Raja ke-5 dari Kerajaan Tanah Jawa yang bernama Djintanari mempunyai istri "Poeang Namartoeah" dari Bandar dan dari perkawinan tersebut mempunyai putra bernama Timboel Madjadi (raja ke-6) selain putranya tersebut beliau juga mempunyai putri "Silandit Bou". Botou ni Toean Timboel Madjadi inilah yang dipersunting Toean Mahasar Damanik dari Sipolha menjadi istrinya.

Dari Perkawinan Toean Mahasar dengan Silandit Bou (Boruni Toean Djintanari) memperoleh keturunan seorang putra yang bernama Toean Djadi Damanik.

Setelah dewasa Toean Djadi mempersunting pula parebannya boruni Toean Timboel Madjadi.

Toean Timboel Madjadi selain mempunyai lima orang putra yang masing-masing bernama Horpanaloean,Podang Rani, Sirhata, Batoerat danAnggaralawan juga mempunyai putri "Silandit Bou".

Dari perkawinan Toean Djadi dengan Silandit Bou (boruni Toean Timboel Madjadi) lahirlah keturunan mereka yaitu dua orang putra masing masing bernama Toean Mariah Moeda Damanik dan Toean Boras Damanik.

Toean Boras Damanik mempunyai seorang putra bernama Toean Akim Damanik.

Setelah dewasa Toean Akim Damanik juga mempersunting keturunan dari Kerajaan Tanah Djawa yaitu boru dari Toean Horpanaloean raja ke8 dari Kerajaan Tanah Jawa.

Toean Horpanaloean selain mempunyai tiga orang putra yang masing masing bernama Toean Djintar, Toean Sang Madjadi dan Toean Djara juga mempunyai seorang putri "Silandit Bou".

Dari Perkawinan Toean Akim Damanik dengan Silandit Bou (putri Toean Horpanaloean) lahir keturunannya yang bernama Toean Kaden Damanik.



Mengingat sejarah tersebut dan skema silsilah yang ada ini, begitu dekatnya hubungan Kerajaan Tanah Jawa dengan Toean Mahasar Damanik dari Sipolha dari generasi ke generasi.

Bagi kita keluarga besar Sinaga dari Kerjaan Tanah Jawa dan juga dari keturunan Toean Mahasar dari Sipolha hendaknya merasa bersyukur karena tutur kekerabatan dari sejak jaman dahulu riwayatnya masih dapat terpelihara dengan baik, hendaknya generasi sekarang yang ada ini dapat meneruskannya.
Sekali lagi dari generasi muda Kerajaan Tanah Jawa dan generasi Toean Mahasar dari Sipolha yang ada sekarang ini saya menghimbau untuk secara bersama sama bertanggung jawab memelihara dan melanjutkan serta mendokumentasikan kekerabatan kita dengan terorganisir.

eone sinaga

Stambom Keradjaan Tanah Djawa

Saya bukanlah seorang penulis ataupun sejarahwan, saya hanyalah manusia biasa. Telah banyak saya baca posting mengenai sejarah kerajaan disimalungun terutama mengenai kerajaan Tanah Jawa. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang begitu perhatiannya terhadap sejarah Kerajaan di Simalungun. Akan tetapi sebegitu banyaknya tulisan tersebut kembali ke itu itu juga karena pada umumnya hanyalah copy paste saja dari tulisan sebelumnya, sementara para pembaca berharap agar tulisan tulisan tersebut lebih berkembang dan lebih spesipik lagi.

Untuk itu saya mencoba menulis riwayat Kerajaan Negeri Tanah Jawa dengan lebih spesipik menurut versi keluarga saya (Keturunan Harajaon Tanah Jawa).

Saya seorang yang berasal dari keturunan Simalungun bermarga Sinaga Dadihoyong menurut cerita orang tua saya, keluarga kami berasal dari Desa Huta bayu marubun, dulunya merupakan bagian wilayah dari Kerajaan Tanah Jawa yang disebut partuanon dan leluhur saya sebagai tuan Marubun.

Menurut cerita orang tua saya Kerajaan Tanah Jawa dahulu terletak di Pematang Tanah Jawa, saat ini adalah Desa Pekan Tanah Jawa, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.
Peninggalan Kerajaan seperti istana (rumah bolon) sudah tidak ada lagi karena telah lama hancur tetapi di bekas tapak istana (rumah bolon tersebut) atas kesepakatan keluarga telah di infaqkan untuk dibangun mesjid.
Yang masih tertnggal saat ini adalah kuburan raja-raja yang dinamakan Parsimagotan. Disana bersemayang 12 kuburan raja, akan tetapi tanda-tanda seperti nama-nama dan kapan meninggalnya tidak ada tertulis, sedangkan pekuburan tersebut terletak diantara dua buah Sungai (Bah) yaitu Bah Manigom dan Bah Kisat.

Orang tua saya ada memberikan sebuah naskah silsilah yang dibuat oleh leluhur saya yaitu Toean Maroeboen bertanggal 19-01-1937 atas perintah Raja Tanoh Djawa dengan judul Stambom Keradjaan Tanah Djawa dari generasi 1(Pertama) dalam arti Raja yang pertama kali dapat diketahui namanya sampai generasi ke-7 (naskah aslinya ada pada saya) kemudian saya membuatnya kembali dan mencoba untuk mengembangkan garis keturunan sampai dengan sekarang ini namun belum dapat diselesaikan mengingat keberadaan saudara saudara kami yang berada diberbagai pelosok Nusantara dan di luar Negeri tercinta ini.


Dari Silsilah ini diterangkan raja ke-1 adalah Sorgalawan, kemudian raja ke-2 Djontaboelan dilanjutkan oleh raja ke-3 Sorgahari. Sorgahari mempunyai anak laki-laki 2(dua) orang, yang pertama bernama Oesoel dan yang kedua bernama Djintanari.
Setelah Sorgahari wafat, anak pertama Sorgahari bernama Oesoel menjadi raja ke-4 dan setelah Oesoel wafat tahta kerajaan dilanjutkan oleh adiknya bernama Djintanari menjadi raja ke-5.

Raja ke-6 bernama Timboel beliau adalah putra dari Djintanari. Raja ke-6 ini mempunyai putra sebanyak 5(lima) orang. Setelah raja ke-6 wafat tahta kerajaan jatuh kepada anak keduanya yang bernama Podang rani menjadi raja ke-7, setelah Podang rani wafat maka beliau digantikan oleh abang tertuanya bernama Horpanaloean menjadi raja ke-8.

Pada masa kekuasaannya Horpanaloean mempunyai 3 (tiga) buah Parhutaan (kampung) yaitu :

1. Huta Pematang Tanah Jawa.
2. Huta Bayu raja.
3. Huta raja Maligas

Beliau bergelar Tuan Raja Maligas, beliau bermukim di Huta Pematang Tanah jawa karena roda pemerintahan ada di Huta Pematang Tanah Jawa, karena beliau memegang tampuk Kerajaan Tanah Jawa maka kekuasaannya adalah meliputi seluruh wilayah Kerajaan Tanah Jawa.

Pada waktu-waktu tertentu ketiga huta ini selalu beliau kunjungi bahkan menginap disalah satu huta yang dikehendakinya.

Pada suatu waktu beliau jatuh sakit di Huta Pematang Tanah Jawa, beliau minta diantar berobat ke Kramat Parsiroan di Huta Raja Maligas, akan tetapi beliau tidak kunjung sembuh bahkan akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Huta Raja Maligas pada tahun 1905. Bangunan makam beliau terbuat dari kayu teras yang memakai pasak dan tiang maka beliau diberi gelar Raja Nairassang. Beliau meninggalkan dua orang putra yang bernama Djintar dan Sangmajadi.

Karena kedua putra beliau belum cukup dewasa maka Kerajaan Tanah Jawa dipangku oleh Tuan Sanggah Goraha dari tahun 1907 sampai dengan 1912. (raja ke 9)
Ditahun 1905 sampai dengan masa kepemimpinan Sanggah Goraha sebagai pemangku Kerajaan Tanah Jawa perlawanan terhadap Belanda terus terjadi, di Tanah Djawa beliau sebagai salah seorang pemimpin perlawanan rakyat yang akhirnya dapat ditundukkan oleh Belanda dan beliau dibuang ke Batubara dan tidak pernah diakui sebagai Raja oleh Pemerintah Belanda dan sampai akhirnya beliau kembali lagi ke Tanah Jawa.
Sanggah Goraha meninggal duniapada tahun 1930.

Setelah Tuan Djintar cukup dewasa maka beliau diangkat menjadi raja Tanah Jawa yang ke-10 dan berkuasa dari tahun 1912 sampai degan tahun 1917.

Pada masa Tuan Djintar diangkat menjadi raja Tanah Jawa, kondisi rumah bolon Huta Pematang Tanah Jawa sudah tidak memenuhi syarat untuk ditempati karena sudah tua, hal ini dapat dimaklumi karena telah dihuni oleh tiga generasi yaitu dari Tuan Djintanari, Tuan Timboel Madjadi dan Tuan Horpanaloean. Pembangunan rumah bolon yang baru tersebut dikepalai oleh Tuan Mahasar Damanik dari Sipolha.

Atas perintah raja Tanah Jawa yang baru yaitu Tuan Djintar maka dibangunlah sebuah rumah bolon yang baru diseberang sungai Bahkisat berikut dibuat parhutaan yang baru dinamakan Huta Dipar (artinya Huta diseberang). Letak Huta tersebut adalah disebelah Kantor Camat Tanah Jawa yang ada sekarang ini.
Diparhutaan yang baru ini diangkat seorang penghulu yang bernama Hoela Sinaga (orang tua dari Toulong Sinaga mertua Marsekal Pertama Syahalam Damanik).


Karena adanya konflik dengan Pemerintah Belanda Tuan Djintar diasingkan oleh Pemerintah Belanda ke kota Medan, beliau wafat di Medan pada tahun 1918 dan jenazahnya dibawa pulang ke Tanah Jawa oleh yang salah seorangnya bernama Tuan Raja Ihoet Sinaga (lahir 1879 meninggal dunia tahun 1997 adalah kakek penulis) anak dari Tuan Sanggah goraha Sinaga (pemangku kerajaan Tanah Jawa dari 1907-1912)

Karena kuburan raja-raja belum ada di Huta Dipar maka jenazah Tuan Djintar dimakamkan di kuburan keluarga di Huta Pematang Tanah Jawa didekat makam opung nininya yaitu Puang Namartuah dan opung dolinya Tuan Timboel Madjadi, karaena kuburan Tuan Djintar terbuat dari batu dan semen maka diberi gelar Raja Naisimin.

Setelah Tuan Djintar wafat, Kerajaan Tanah Jawa untuk sementara dipangku langsung oleh permaisurinya yaitu Puang Bolon boru Damanik dari Bandar dari tahun 1918 sampai dengan tahun 1919.

Beberapa waktu kemudian datanglah Pemerintah Belanda dan bertanya kepada permaisuri "Siapakah diantara putra raja Nairassang (alm Tuan Djintar) yang akan diangkat menjadi raja?".Puang Bolon tidak segera menjawab dan minta waktu untuk mempertimbangkannya. Sebagaimana diketahui yang berhak menjadi raja adalah anak Puang Bolon, akan tetapi anak beliau hanya satu-satunya yaitu seorang putri Silandit Bou istri dari Tuan Mahasar Ke-IV (Toean Akim Damanik dari Sipolha) .

Karena Pemerintah Belanda terus mendesak agar segera diangkat seorang Raja baru, maka Puang Bolon boru Damanik dari Bandar menunjuk Tuan Sangmadjadi adik dari Tuan Djintar untuk diangkat menjadi Raja Tanah jawa yang baru.


Pada Tahun 1919/1920 Tuan Sangmadjadi diangkat menjadi Pemangku Kerajaan Tanah Jaawa.
Pada tanggal 27 Juli 1921 Tuan Sangmajadi menandatangani Korte Verklaring yang kemudian disyahkan oleh Pemerintah tertinggi Belanda dengan Gouverments Besluit No.23 buln Januari 1922 ,sejak penanda tanganan Korte Verklaring tersebut maka telah syahlah Tuan Sangmadjadi menjadi Raja ke-11 Kerajaan Tanah Jawa.


Pada tahun 1940 sebelum beliau wafat, beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Belanda berupa sebuah Tongkat Kerajaan berbalut emas dan Payung Kerajaan yang berwarna keemasan. Tuan Sangmajadi wafat tahun 1940 meninggalkan tiga orang putra.
Setelah Tuan Sangmadjadi wafat Kerajaan Tanah Jawa dipangku oleh putra tertua beliau yang bernama Tuan Kaliamsjah sampai terjadinya revolusi.


Dengan terjadinya revolusi tersebut maka berakhirlah Kerajaan-kerajaan yang ada di Simalungun.

Fhoto ini adalah majalah Pewarta Kerajaan yang terbit sebulan sekali di Medan bertanggalkan 15 Agustus tahun 1940an yang memberitakan tentang wafatnya Tuan Sangmadjadi.

Demikianlah yang dapat saya ceritakan dari silsilah atau Stambom Kerajaan Tanah Jawa yang di sampaikan oleh orang tua dan opung kepada saya beberapa tahun yang lalu. Tentunya ini tidak lepas dari pada kekurangan kekurangan karena keterbatasan pegetahuan penulis tentang riwayat Kerajaan Tanah Jawa. Penulis berharap kepada semua keturunan Kerajaan Tanah jawa dan semua pihak yang mengetahui sejarah Kerajaan Tanah Jawa dan garis keturunanya yang membaca tulisan ini saya berharap masukannya ke blog ini dan apabila ada kesalahan dari tulisan ini mohon koreksi. Kesempurnaan adalah milik Allah dan kekurangan adalah milik saya kepadanya saya mohon ampun kepada semua pihak saya mohon maaf, Wassalam.


eone sinaga